Kamis, 23 April 2015

Resume : Pembelajaran Berbasis Bimbingan

PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN

A.      Latar Belakang
Kararkter siswa yang beraneka ragam mewajibkan guru untuk memahaminya tentang psikologi perkembangan peserta didik agar bisa berinteraksi dengan anak didknya.Dengan demikian, dalam proses pengajaran seorang guru seharusnya tidak hanya terfokus pada pencapaian kognitif saja, tetapi juga harus memperhatikan tingkat kemampuan siswa dengan cara memahami tahap-tahap perkembangan mental anak. Selain itu, karena perkembangan psikologi siswa berbeda-beda, makaguru harus memperhatikan model pembelajaran yang akan diterapkan. Terdapat bermacam-macam model pembelajaran yang diantaranya ada yang berbasis bimbingan. Model pembelajaran berbasis bimbingan ini diharapkan mampu menaungi siswa di setiap langkah pembelajaran.
B.       Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Bimbingan
1.             Konsep Bimbingan
Bimbingan adalah usaha sadar untuk memberikan bantuan dengan cara memberi arahan, panduan, pertimbangan kepada individu agar bisa mengaktualisasikan dirinya secara optimal, serta mewujudkan apa yang menjadi harapannya. Dari definisi bimbingan menurut para ahli juga dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses berkesinambungan sebagai upaya membantu untuk memfasilitasi individu agar berkembang secara optimal. Perkembangan optimal merupakan kondisi dinamik, perkembangan yang sesuai dengan potensi individu yang mampu mengenal dirinya, serta mampu mengarahkan diri sesuai kemampuannya

2.             Konsep Pembelajaran dan Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Dari definisi belajar menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan pada manusia berbentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain. Pembelajaran adalah sistem lingkungan yang mengupayakan pendidik agar peserta didik belajar atau membelajarkan diri agar tujuan pendidikan terpenuhi. Belajar yang dimaksud adalah proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman. Perubahan disini sebagai hasil pembelajaran bersifat positif dan normatif.
Pembelajaran yang baik tidak hanya terfokus pada pencapaian aspek kognitif saja, tetapi pencapaian peserta didik yang berprilaku baik dan normatif juga diperlukan. Oleh karena itu, pembelajaran baerbasis bimbingan berperan penting dalam hal ini. Menurut Budiman (Najjah, 2015), pembelajaran berbasis bimbingan seharusnya berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan yaitu: (a) Didasarkan pada Needs assessment (sesuai dengan kebutuhan); (b) Dikembangkan dalam suasana membantu (helping relationship); (c) Bersifat memfasilitasi; (d) Berorientasi pada: (1) learning to be (belajar menjadi); (2) learning to learn (belajar untuk belajar); (3) learning to work (belajar untuk bekerja dan berkarir); (4) learning to live together (belajar untuk hidup bersama), dan ; (e) Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal.
Definisi tentang pembelajaran berbasis bimbingan dikemukakan oleh Mariyana (2008, hlm. 2) bahwa pembelajaran berbasis bimbingan merupakan sebuah model pembelajaran yang dirancang berdasarkan pemahaman terhadap bimbingan, dengan memperhatikan pemahaman terhadap anak dan cara belajarnya.

B.       Ciri-ciri Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Menurut Kartadinata dan Dantes (dalam Mariyana, 2008, hlm. 2) pembelajaran berbasis bimbingan memiliki ciri-ciri berikut: (a) Diperuntukkan bagi semua siswa; (b) Memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan sedang berkembang; (c) Mengakui siswa sebagai individu yang bermartabat dan berkemampuan; (d) Terarah ke pengembangan segenap aspek perkembangan anak secaramenyeluruh dan optimal; (e) Disertai dengan berbagai sikap guru yang positif dan mendukung aktualisasi berbagai minat, potensi, dan kapabilitas siswa sesuai dengan norma-norma kehidupan yang dianut.

Selain itu, adapula ciri-ciri lain dari model pembelajaran berbasis bimbingan, yaitu: (a)Diperuntukkan bagi semua peserta didik dalam arti kata merupakan suatu kinerja yang berorientasi sepenuhnya terhadap kebutuhan individual siswa; (b) Sangat memperhatikan keamanan psikologis siswa baik dalam proses pembelajaran atau di saat prosesi istirahat; (c) Memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan sedang berkembang; (d) Mengakui siswa sebagai individu yang bermartabat dan berkemampuan; (e) Penuh penghargaan; (f) Pemberian reward untuk semua prestasi siswa baik itu prestasi yang besar ataupun yang kecil sekalipun; (g) Menghindari hukuman fisik agar tidak terjadi kecacatan mental dini dalam dunia pendidikan; (h) Demokratis bahwa di setiap pembelajaran yang berbau bimbingan guru wajib mendengarkan suara siswa terlebih dahulu agar terjadi komunikasi yang baik dan mendapat pemecahan masalah yang mendalam; (i) Terarah ke pengembangan segenap aspek perkembangan siswa secara menyeluruh dan optimal; (j) Disertai dengan berbagai sikap guru yang positif dan mendukung aktualisasi berbagai minat, potensi, dan kapabilitas siswa sesuai dengan norma-norma kehidupan yang dianut.

C.      Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Pembelajaran berbasis bimbingan merupakan pembelajaran yang berdasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan sehingga tidak terlepas dari prinsip-prinsip bimbingan yaitu: (a) Proses membantu individu; (b) Bertitik tolak pada individu yang dibimbing; (c) Didasarkan pada pemahaman atas keragaman individu yang dibimbing; (d) Pada batas tertentu perlu ada referral; (e) Dimulai dengan identifikasiatas kebutuhan individu; (f) Diselenggarakan secara luwes dan fleksibel; (g) Sejalan dengan visi dan misi lembaga; (h) Dikelola dengan orang yang memiliki keahlian di bidang bimbingan; (i) Ada sistem evaluasi yang digunakan. Pembelajaran yang berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan menurut Budiman (2008) adalah:
a.    Didasarkan pada Needs Assesment, yaitu proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan. Kebutuhan itu pada dasarnya adalah kesenjangan (discrepancies) antara apa yang telah tersedia dengan apa yang tela tersedia   denga apa   yang   diharapkan,   da nee assessment   adalah   proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan.
b.    Dikembangkan dalam Suasana Membantu (Helping Relationship)
Helping Relationship sebagai suatu relasi yang terjadi diantara dua pihak, dimana salah satu pihak mempunyai kehendak untuk meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, kedewasaan, memperbaiki berfungsinya dan memperbaiki kemampuan pihak yang lain untuk menghadapi dan menangani kehidupannya sendiri (Rogers dalam Sugiyatno, tt). Karakteristik helping relationship menurut Shertzer and Stone (dalam Sugiyatno, tt) : (1) Merupakan suatu relasi yang berarti bagi helper dan helpee; (2) Ditandai adanya relasi yang bersifat efektif; (3) Diperlukan integritas pribadi; (4) Terjadi atas kebutuhan bersama dan persetujuan bersama antara helper dan helpee; (5) Helper membutuhkan informasi, instruksi, bantuan, pemahaman dari helper; (6) Terjadi melalui komunikasi dan interaksi antara helper dan helpee; (7) Adanya kerjasama antara helper dan helpee; (8) Helper mudah didekati dan merasa aman sebagai seorang individu; (9) Bertujuan untuk terjadi perubahan perilaku pada helpee.
c.       Empati, yaitu sikap mengerti perasaan dan emosi orang lain serta membayangkan diri di tempat orang lain
d.      Keterbukaan, salah satu asas bimbingan dan konseling yang mengajak siswa untuk lebih terbuka tentang dirinya kepada guru pembimbing guna melancarkan perkembangan dirinya. Dengan begitu, guru pembimbing harus memegang asas kerahasiaan dan kesukarelaan pada siswa agar siswa dapat terbuka.
e.    Kehangatan psikologis
f.     Realistis
g.    Bersifat Memfasilitasi
h.    Berorientasi pada learning to be (belajar untuk menjadi), learning to learn (belajar untuk belajar), learning to work (belajar untuk bekerja dan berkarier), dan learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
i.      Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal.

D.      Model-model Pembelajaran yang Berorientasi pada Pengembangan Individu
Bimbingan sangat berkaitan dengan perkembangan individu sehingga dalam pembelajaran perlu menerapkan model-model pembelajaran yang ada dan membantu dalam perkembangan individu secara optimal. Model pembelajaran adalah prosedur sistematis adatu pedoman untuk merancang suatu pembelajaran agar tujuan belajar tercapai. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru bisa memilih model pembelajaran sesuai tujuan pendidikannya. Model-model pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan individu yang dapat dipilih guru antara lain:

1.             Model Pemrosesan Informasi
Model pembelajaran yang berasal dari teori belajar kognitif (Piaget) ini berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Menurut Rusman (tt, hlm.12), sembilan langkah yang harus dilakukan guru terkait dengan model ini, yaitu: (a) Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa; (b) Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang akan dibahas; (c) Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran; (d) Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah ditentukan; (e) Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.; (f) Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran; (g) Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa; (h) Melaksanakan penilaian proses dan hasil; (i) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya.

2.             Model Personal
Model pembelajaran personal bertolak pada teori Humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan individu. Dalam teori ini, guru harus menciptakan suasana kelas yang kondusif agar siswa bebas mengembangkan dirinya baik emosional maupun intelektual. Implikasi dari teori humanistik dalam pendidikan adalah: (a) Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan; (b) Tingkah laku yang ada dapat dilaksanakan sekarang; (c) Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri; (d) Tingkah laku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri; (e) Belajar siswa adalah sangat penting daripada mengajar; (f) Mengajar yaitu membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dalam lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap.
Model pembelajaran personal ini meliputi strategi pembelajaran sebagai berikut: (a) Pembelajaran Non-Direktif, untuk membentuk kemampuan dan perkembangan pribadi; (b) Latihan kesadaran untuk meningkatkan kepedulian siswa; (c) Sinektik, untuk mengembangkan kreativitas pribadi, dan; (d) Sistem konseptual, untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.
3.             Model Interaksi Sosial
Model yang didasari oleh teori Gestalt ini menitikberatkan hubungan yang harmonis antara individu dan masyarakat sehingga diharapkan hal yang dikembangkan oleh siswa adalah bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Model interaksi sosial ini mencakup strategi pembelajaran sebagai berikut: (a) Kerja kelompok; (b) Pertemuan kelas; (c) Pemecahan masalah sosial atau inquiry social ; (d) Model Laboratorium; (e) Bermain peranan, dan ; (f) Simulasi solusi

4.             Model Modifikasi Tingkah Laku
Model ini penurunan dari teori behavioristik, yaitu untuk membentuk tingkah laku dengan cara manipulasi penguatan dan membuat sistem pengurutan tugas-tugas belajar yang lebih efisien. Dalam hal ini, peran guru adalah selalu memperhatikan tingkah laku belajar siswa.
5.             Model Pembelajaran Terpadu Berbasis Budaya
Model ini untuk meningkatkan apresiasi siswa pada budaya lokal serta mengembangkannya berdasarkan pengalaman awal budaya siswa. Komponen desainnya terdiri atas tema budaya lokal, alat dan sumber beragam yang kontekstual, serta penilaiannya menekankan pada proses dan hasil. Pelaksanaannya ada tiga tahap yakni pengondisian, penciptaan makna dna konsolidasi (Alexon dan Sukmadinata, 2010, hlm. 201).
6.             Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif diadopsi dari paham konstruktivis, di sini siswa berkemampuan berbeda-beda membentuk kelompok kecil untuk memahami materi pelajaran. Slavin (dalam Riadi, 2012) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaan kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya, kemudian terdapat tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik dari pembelajaran kooperatif yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
Langkah-langkah pembelajaran Cooperative Learning menurut Arends (dalam Fatirul, 2008, hlm. 20) adalah: (a) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; (b) Menyajikan informasi; (c) Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar; (d) Membimbing kelompok bekerja dan belajar; (e) Evaluasi; (f) Memberikan penghargaan

7.             Model pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar dimana guru mendorong siswa untuk membuat hubungan situasi di dunia nyata dikaitkan dengan pengetahuan yang siswa miliki Tugas guru pada model pembelajaran kontekstual ini adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Tugas guru pada model ini adalah membantu siswa supaya mencapai tujuan, mengelola kelas menemukan hal yang baru bagi siswa.

8.             Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Model ini merupakan strategi pengajaran yang pada awalnya siswa secara aktif diberi masalah dalam situasi yang nyata. Masalah yang diberikan antara lain untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran tersebut. Tahap-tahap pembelajaran Problem Based Learning menurut Trianto (dalam Nurfianti, 2011) adalah:
a.    Orientasi siswa pada masalah, yaitu menjelaskan tujuan pembelajaran, memberitahu logistic yang diperlukan, mengajukan peristiwa yang memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.
b.    Mengorganisasi siswa, yaitu membagi siswa ke dalam kelompok, membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
c.    Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang penting, melakukan eksperimen dan untuk jawaban dan pemecahan masalah.
d.   Mengembangkan dan menyajikan hasil, merencanakan dan menyiapkan laporan, dokumentasi, atau model.
e.    Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah yang dibantu oleh guru.



Referensi: Makalah BK Kelompok 7

Selasa, 14 April 2015

Resume : Masalah-Masalah Siswa di Sekolah Serta Pendekatan-Pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling

Resume           : Masalah-Masalah Siswa di Sekolah Serta Pendekatan-Pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling

Latar Belakang
            Dalam kehidupannya, manusia menghadapi masalah yang silih berganti, ada yang dapat mengatasinya sendiri, dan ada pula yang tidak bisa mengatasi tanpa bantuan orang-orang sekitarnya. Dalam dunia pendidikan, siswa tak jarang menghadapi masalah sehingga mereka menunjukkan perilaku yang menyimpang dimulai dari kategori ringan ke berat. Oleh karena itu, bimbingan dan konseling berperan dalam masalah seperti ini. Guru lebih mengetahui informasi tentang siswa sehingga kerja sama guru dan siswa sangatlah penting agar program bimbingan dan konseling tersusun secara komprehensif dan terarah.


2. 1            Masalah-masalah Siswa di Sekolah
            Tohirin (2007: 111) mengungkapkan bahwa siswa di sekolah  akan mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan:  (1) Perkembangan individu, (2) Perbedaan individu, (3) Kebutuhan individu dalam hal: memperoleh kasih sayang, harga diri, penghargaan yang sama, ingin dikenal, prestasi dan posisi, untuk dibutuhkan orang lain, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, dan untuk memperoleh kemerdekaan diri, (4) Penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, (5) Masalah belajar. M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengklasifikasikan masalah individu termasuk siswa sebagai berikut:
1)      Masalah atau kasus yang berhubungan problematika individu dengan Tuhannya. Dampaknya adalah malas beribadah dan tidak bisa menjauhi perbuatan yang dilarang-Nya.
2)      Masalah individu dengan dirinya sendiri, ialah yaitu gagal membangun sikap disiplin pada diri sendiri dan kurang rasa kebertuhanannya. Dampaknya adalah muncul sikap was-was, ragu-ragu, berprasangka buruk (su’udzon), krisis motivasi, dan dalam banyak hal tidak mampu bersikap mandiri.
3)      Individu dengan lingkungan keluarga, contohnya sulit menjalun hubungan yang harmonis dalam keluarga. Akibatnya,  anak merasa tertekan, kurang kasih sayang, dan kurangnya ketauladan dari kedua orang tua.
4)      Individu dengan lingkungan kerja, contohnya gagal dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuannya, kurang mampu berkomunikasi dengan rekan kerja dan atasannya dengan baik, dan kegagalan dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
5)      Individu dengan lingkungan sosialnya, misalnya ketidakmampuan melakukan penyesuaian diri (adaptasi) baik dengan lingkungan tetangga, sekolah, dan masyarakat atau kegagalan bergaul dengan lingkungan yang beraneka ragam watak, sifat, dan perilaku.

Beberapa contoh masalah-masalah di sekolah yang dikemukakan dalam Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (halaman 58).
1.      Prestasi belajar rendah, seperti : nilai rapor menurun banyak merahnya; nilai tugas, ulangan dan ujian rendah; mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau beberapa mata pelajaran dan di kelas. Hal ini bisa disebabkan oleh : tingkat kecerdasan rendah; malas; kekurangan sarana belajar; tidak bisa membagi waktu untuk belajar; proses belajar-mengajar di sekolah kurang merangsang; suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa untuk belajar dengan baik. Akibatnya, siswa menjadi : tidak naik kelas; dikeluarkan dari sekolah; frustasi; tidak mampu melanjutkan pelajaran; kesulitan mencari kerja.

2.      Kurang berminat pada bidang studi tertentu, seperti : tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut; berusaha menghindari mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut; tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut. Kemungkinan sebab: tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut; lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut; proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan; dengan guru kurang menyenangkan; siswa sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya selalu rendah; memilih bidang tersebut dari ikut-ikutan, atau dorongan orang tua atau orang lain. Akibatnya, : pindah jurusan; terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa; kegiatan belajar untuk bidang-bidang studi lain menjadi terganggu.

3.      Bentrok dengan guru, seperti : tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut; tidak mau bertemu dengan guru tersebut; jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut; memakai kata-kata ataupun bersikap tidak sopan terhadap guru tersebut; mempengaruhi kawan-kawannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut. Sebabnya: tidak menyukai bidang studi yang diajarkan oleh guru tersebut; siswa berbuat kesalahan dan tidak mau menerima teguran dari guru; berwatak pemberang; kurang memahami aturan dan sopan santun yang berlaku di sekolah. Akibatnya: dicap buruk guru yang bersangkutan; hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-guru lain menjadi terganggu; tidak naik kelas; dikeluarkan dari sekolah.

4.      Melanggar tata tertib, seperti: sejumlah tata tertib sekolah tidak dipatuhi; pelanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja dan dilakukan berkali-kali. Hal ini disebabkan oleh: tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehingga siswa hanya terpaksa mengikutinya; siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun di masyarakat; tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga tanggapan siswa menjadi negatif; masa-masa remaja yang sukar diatur. Akibatnya: tingkah laku siswa tidak terkendali; terjadi kerenggangan hubungan antara guru dan murid; suasana sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa; proses belajar-mengajar terganggu; nilai rendah; tidak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah.

5.      Membolos, biasanya disebabkan oleh: kurang senang dengan sikap dan perilaku guru; merasa kurang mendapatkan perhatian dari guru; merasa dibeda-bedakan oleh guru; proses belajar-mengajar membosankan; merasa gagal dalam belajar; kurang berminat terhadap mata pelajaran; terpengaruh oleh teman yang suka membolos; takut masuk karena tidak membuat tugas; tidak membayar iuran tepat pada waktunya. Akibatnya : minat terhadap pelajaran berkurang; tidak lulus ujian; hasil belajar yang diperoleh tidak memuaskan; tidak naik kelas; penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman lainnya; dikeluarkan dari sekolah.

6.      Terlambat masuk sekolah, hal ini disebabkan: jarak antara sekolah dan rumah jauh; kesulitan kendaraan; terlalu sibuk di rumah, membantu orang tua; terlambat bangun; gangguan kesehatan; tidak menyukai suasana sekolah; tidak menyukai satu atau lebih mata pelajaran; tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR); tidak siap mengikuti kelas pagi; terlalu asyik dengan kegiatan di luar sekolah. Akibatnya: nilai rendah; Hubungan dengan guru terganggu; Hubungan dengan kawan sekelas terganggu; Kegiatan di luar sekolah tidak terkendali.

7.      Pendiam, yaitu: kurang mau berbicara atau bertegur sapa; kurang akrab terhadap teman atau guru; Tidak ceria. Hal ini disebabkan: sikap introvert; kurang sehat; mengalami gangguan dengan organ bicara; malu atau takut kepada orang lain; merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara; mengalami kesulitan bahasa; sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam. Akibatnya: tidak disukai kawan dan pergaulan terganggu; kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan.

8.      Kesulitan alat pelajaran, seperti: tidak memiliki atau tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis; tidak mampu membeli alat-alat pelajaran. Hal ini disebabkan: orang tua tidak mampu; siswa boros sehingga uangnya habis untuk keperluan lain; kurang akrab dengan kawan sehingga tidak dapat meminjam alat pelajaran yang diperlukan dari kawan; tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada (misalnya perpustakaan); kurang rapi dan teliti sehingga alat-alat pelajaran yang dimiliki lekas rusak atau hilang. Akibatnya: tertinggal dalam pelajaran; tugas-tugas tidak selesai; nilai rendah; semangat belajar menurun.

9.      Bertengkar atau berkelahi, biasanya karena: pengendalian diri kurang; mau menang sendiri; merasa jagoan; hiperaktif; suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati (permisif). Akibatnya: tidak disukai kawan dan guru; terluka; melalaikan pelajaran; nilai rendah; tidak naik kelas; berurusan dengan polisi; dikeluarkan dari sekolah.

10.  Sukar menyesuaikan diri, seperti: sering salah paham dengan kawan; sombong atau tinggi hati; suka membanding-bandingkan dan menjelekkan orag lain; tidak mau menerima pendapat orang lain; curiga dan kurang percaya pada orang lain; pergaulan terbatas. Hal ini disebabkan: memiliki standar yang berbeda dengan standar yang ada; banyak mengalami kekecewaan dalam berhubungan dengan orang lain; terlalu lama bergaul dengan sekelompok orang dalam suasana tertentu; suasana keluarga terlalu keras. Akibatnya: kurang bersosialisasi sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain; Ttidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya.

2. 2            Pendekatan-pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling
Dilihat dari pendekatan bimbingan, bimbingan itu dibagi menjadi 4 pendekatan yaitu :

2.2.1        Pendekatan Krisis
Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Dalam pendekatan krisis ini, guru BK menunggu siswa yang datang, selanjutnya mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan siswa.

2.2.2        Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Tujuan bimbingan adalah untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini guru BK memfokuskan pada kelemahan-kelemahan individu yang selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.

2.2.3        Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif adalah upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum individu dan mencoba jangan sampai terjadi masalah tersebut pada individu. Guru BK berupaya untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut pada individu .

2.2.4        Pendekatan Perkembangan
Bimbingan dan konseling yang berkembang pada saat ini adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Visi bimbingan dan konseling adalah edukatif , pengembangan, dan outreach. Teknik yang digunakan dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling (Muro and Kottman, 1995:5)

2. 3            Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
Bedasarkan beberapa pengertian di atas, Nurihsan (2007) mengemukakan bahwa strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegaiatan, dan sarana penunjang kegiatan. Strategi yang diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling disebut strategi layanan bimbingan dan konseling.
Strategi bimbingan dan konseling dapat berupa konseling individual, konsultasi, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan pengajaran remedial, bimbingan klasikal, dan strategi terintegrasi.

2.3.1        Konseling Individual
Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara guru BK dan siswa. Siswa yang mengalami masalah pribadi yang sulit atau tidak bisa diselesaikan sendiri, kemudian meminta bantuan kepada guru BK sebagai petugas yang profesional dalam jabatannya dengan pengetahuan dan keterampilan psikologi. Dalam konseling diharapkan siswa dapat mengubah sikap, keputusan diri sendiri sehingga ia dapat lebih baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Konseling bertujuan membantu siswa untuk mengadakan interpretasi fakta-fakta, mendalami arti nilai hidup pribadi baik sekarang maupun mendatang. Konseling memberikan bantuan kepada siswa untuk mengembangkan kesehatan mental, perubahan sikap, dan tingkah laku. Konseling menjadi strategi utama dalam proses bimbingan dan merupakan teknik standar serta merupakan tugas pokok seorang guru BK.
Menurut Nurihsan (2007: 11) teknik yang digunakan dalam konseling individual yaitu: a) Menghampiri siswa; b) empati; c) refleksi; d) eksplorasi; e) menangkap pesan utama; f) bertanya untuk membuka percakapan; g) bertanya tertutup; h) dorongan minimal; i) interpretasi; j) mengarahkan; k) menyimpulkan sementara; l) memimpin; m) memfokus; n) konfrontasi; o) menjernihkan; p) memudahkan; q) diam; r) mengambil inisiatif; s) memberi nasihat; t) memberi informasi; u) merencanakan; dan v) menyimpulkan.
Secara umum Nurihsan (2007) membagi proses konseling individual ke dalam tiga tahapan yaitu:
a)    Tahap Awal Konseling
Tahap awal ini terjadi sejak siswa bertemu dengan guru BK hingga berjalan proses konseling dan menemukan definisi masalah siswa. Adapun yang dilakukan guru BK dalam proses konseling tahap awal adalah sebagai berikut:
1)      Membangun hubungan konseling dengan melibatkan siswa yang mengalami masalah
2)      Memperjelas dan mendefinisikan masalah
3)      Membuat penjajakan alternatif bantuan untuk mengatasi masalah
4)      Menegosiasikan kontrak
b)   Tahap Pertengehan Konseling (Tahap Kerja)
Kegiatan ini terfokus pada: penjelajahan masalah yang dialami siswa, dan bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian kembali apa-apa yang telah dijelajahi tentang masalah siswa. Cavanagh (Nurihsan, 2007: 14) menyebut tahap ini sebagai tahap action. Adapun tujuan pada tahap pertengahan ini adalah sebagai berikut:
1)      Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah serta kepedulian siswa dan lingkungannya dalam mengatasi masalah tersebut.
2)      Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara.
3)      Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.
c)    Tahap Akhir Konseling
Cavanagh (Nurihsan, 2007: 15) menyebut tahap ini dengan istilah termination. Pada tahap ini, konseling ditandai oleh beberapa hal berikut:
1)      Menurunnya kecemasan siswa. Hal ini diketahui setelah guru BK menanyakan keadaan kecemasannya.
2)      Adanya perubahan perilaku yang jelas ke arah yang lebih positif, sehat, dan dinamik.
3)      Adanya tujuan hidup yang jelas di masa yang akan datang dengan program yang jelas pula.
4)      Terjadinya perubahan sikap positif terhadap masalah yang dialaminya, dapat mengoreksi diri dan meniadakan sikap yang suka menyalahkan dunia luar, seperti orang tua, teman, dan keadaan yang tidak menguntungkan.

Tujuan tahap akhir ini adalah memutuskan perubahan sikap dan perilaku yang tidak bermasalah. Adapun tujuan lainnya dari tahap ini adalah: terjadinya transfer of learning pada diri siswa; melaksanakan perubahan perilaku siswa agar mampu mengatasi masalahnya; dan mengakhiri hubungan konseling.

2.3.2        Konsultasi
Pengertian konsultasi dalam program bimbingan dipandang sebagai suatu proses menyediakan bantuan teknis untuk guru, orang tua, administrator, dan guru BK lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas siswa atau sekolah. Menurut Nurihsan (2007) ada delapan tujuan konsultasi, yaitu: a) Mengembangkan dan menyempurnakan lingkungan belajar bagi siswa, orang tua, dan administrator sekolah; b) Menyempurnakan komunikasi dengan mengembangkan informasi diantara orang yang penting; c) Mengajak bersama pribadi yang memiliki peranan dan fungsi yang bermacam-macam untuk menyempurnakan lingkungan belajar; d) Memperluas layanan dari para ahli; e) Memperluas layanan pendidikan dari guru dan administrator; f) Membantu orang lain bagaimana belajar tentang perilaku; g) Menciptakan suatu lingkungan yang berisi semua komponen lingukngan belajar yang baik; h) Menggerakkan organisasi yang mandiri;
Sedangkan, langkah proses konsultasi menurut Nurihsan (2007) yaitu: a) Menumbuhkan hubungan berdasarkan  komunikasi dan perhatian pada siswa; b) Menentukan diagnosis atau sebuah hipotesis kerja sebagai rencana kegiatan; c) Mengembangkan motivasi untuk melaksanakan kegiatan; d) Melakukan pemecahan masalah; e) Melakukan alternatif lain apabila masalah belum terpecahkan.

2.3.3        Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri siswa. Isi kegiatan bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran. Menurut Nurihsan (2007), pelaksanaan bimbingan kelompok memerlukan persiapan dan praktik pelaksanaan kegiatan yang memadai, dari langkah awal sampai dengan evaluasi dan tindak lanjutnya.
a)    Langkah Awal
Langkah awal ini dimulai dengan penjelasan tentang adanya layanan bimbingan kelompok bagi para siswa, pengertian, tujuan, dan kegunaan bimbingan kelompok. Setelah penjelasan ini, langkah selanjutnya menghasilkan kelompok yang langsung merencanakan waktu dan tempat menyelenggarakan kegiatan bimbingan kelompok.
b)   Perencanaan Kegiatan
Perencanaan kegiatan bimbingan kelompok meliputi penetapan: materi layanan; tujuan yang ingin dicapai; sasaran kegiatan; bahan atau sumber bahan untuk bimbingan kelompok; rencana penilaian; dan waktu dan tempat.
c)    Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan yang telah direncanakan itu selanjutnya dilaksanakan melalui kegiatan sebagai berikut.
1)      Persiapan menyeluruh yang meliputi persiapan fisik (tempat dan kelengkapannya), persiapan bahan, persiapan keterampilan, dan persiapan administrasi.
2)      Pelaksanaan tahap-tahap kegiatan. Tahap pertama meliputi pembentukan, temanya pengenalan, pelibatan dan pemasukan diri. Tahap kedua yaitu peralihan, sementara tahap ketiga yaitu kegiatan.
3)      Evaluasi Kegiatan
Penilaian terhadap bimbingan kelompok berorientasi pada perkembangan yaitu mengenali kemajuan atau perkembangan positif yang terjadi pada diri peserta. Lebih jauh, penilaian terhadap bimbingan kelompok lebih bersifat penilaian “dalam proses”, yang dapat dilakukan melalui: mengamati partisipasi dan aktivitas peserta selama kegiatan berlangsung; mengungkapkan pemahaman peserta atas materi yang dibahas; mengungkapkan kegunaan bimbingan kelompok bagi mereka dan perolehan mereka sebagai hasil dari keikutsertaan mereka; mengungkapkan minat dan sikap mereka tentang kemungkinan kegiatan lanjutan; dan mengungkapkan kelancaran proses dab suasana penyelenggaraan bimbingan kelompok.
d)   Analisis dan Tindak Lanjut
Menurut Nurihsan (2007: 21) hasil penilaian kegiatan bimbingan kelompok perlu dianalisis untuk mengetahui lebih lanjut seluk beluk kemajuan para peserta dan seluk beluk penyelenggaraan bimbingan kelompok. Perlu dikaji apakah hasil-hasil pembahasan dan atau pemecahan masalah yang sudah dilakukan sedalam atau setuntas mungkin, atau sebenarnya masih ada aspek-aspek penting yang belum dijangkau dalam pembahasan.

2.3.4        Konseling Kelompok
Konseling kelompok merupakan bantuan kepada siswa dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok bersifat pencegahan, dalam arti bahwa siswa yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk berfungsi secara wajar dalam masyarakat, tetapi mungkin memiliki suatu titik lemah dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat pemberian kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan siswa, dalam arti bahwa konseling kelompok itu menyajikan dan memberikan dorongan kepada siswa yang bersangkutan untuk mengubah dirinya selaras dengan minatnya sendiri. Prosedur konseling kelompok sana dengan bimbingan kelompok, yaitu terdiri dari: a) tahap pembentukan, dengan temanya pengenalan, perlibatan, dan pemasukan diri; b) tahap peralihan, dengan temanya pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga; c) tahap kegiatan, dengan temanya kegiatan pencapaian tujuan; d) tahap pengakhiran, dengan temanya penilaian dan tindak lanjut.

2.3.5        Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial merupakan langkah utama dalam kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar. Prosedur remedial menurut Nurihsan (2007) dapat digambarkan sebagai : a) Diagnostik kesulitan belajar-mengajar; b) Rekomendasi/referral; c) Penelaahan kembali kasus; d) Pilihan alternatif tindakan; e) Layanan konseling; f) Pelaksanaan pengajaran remedial; g) Pengukuran kembali hasil belajar-mengajar; h) Reevalusai/rediagnostik; i) Tugas tambahan; j) Hasil yang diharapkan.
Strategi dan teknik pengajaran remedial dapat dilakukan secara preventif, kuratif, dan pengembangan. Tindakan pengajaran remedial dikatakan bersifat kuratif jika dilakukan setelah program PBM utama selesai diselenggarakan. Pendekatan preventif ditujukan kepada siswa tertentu yang diperkirakan akan mengalami hambatan terhadap pelajaran yang akan ditempuhnya. Pendekatan pengembangan merupakan tindak lanjut dari upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsung program PBM.

2.3.6        Bimbingan Klasikal

Menurut Sudrajat, bimbingan klasikal dilaksanakan secara terjadwal, guru BK memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti : kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan intternet).