Jumat, 06 Maret 2015

Resume Kelompok 2 : Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling

KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING
A.      Definisi Bimbingan dan Konseling
Dari berbagai definisi menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan secara berkesinambungan kepada seseorang atau sekelompok orang untuk pencapaian suatu tujuan. Kemudian  berbagai definisi menurut para ahli pula dapat disimpulkan bahwa konseling adalah suatu pelayanan yng diberikan oleh guru BK kepada siswa untuk menangani masalah siswa agar tercapai tujuan-tujuan yang berguna untuk siswa. Menurut Tohirin (2007:26), “Bimbingan dan konseling dapat dikatakan sebagai proses pemberian bantuan atau pertolongan yang sistematis dari pembimbing (guru BK) kepada konseli (siswa) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya untuk menggungkap masalah konseli sehingga konseli mampu melihat masalahnya sendiri, mampu menerima dirinya sendiri sesuai dengan potensinya, dan mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya”.

B.       Fungsi Bimbingan dan Konseling
1.         Fungsi Pencegahan (preventif)
Fungsi pencegahan dalam bimbingan dan konseling adalah suatu fungsi untuk mencegah timbulnya berbagai macam permasalahan pada diri siswa yang dapat menghambat dan menimbulkan kerugian pada perkembangannya. Adapun beberapa layanan yang dapat diberikan berkenaan dengan fungsi ini diantaranya:
a.         Layanan orientasi, layanan ini diberikan kepada siswa baru agar mereka mengenal lingkungan sekolahnya dengan lebih baik. Pada layanan ini siswa diberi informasi tentang kurikulum, cara-cara belajar, fasilitas belajar, hubungan sosial, tata tertib atau peraturan sekolah, sarana pendidikan, dan sebagainya.
b.        Layanan pengumpulan data, yaitu layanan yang bertujuan untuk mengumpulkan data tentang siswa yang lengkap dan tepat sehingga guru BK lebih paham tentang pribadi siswa-siswanya.
c.         Layanan kegiatan kelompok, diberikan agar siswa memperoleh pemahaman diri secara lebih baik serta meningkatkan pemahaman lingkungan dan kemampuan mengambil keputusan secara tepat.
d.        Bimbingan karir, layanan ini diharapkan siswa memperoleh pemahaman terhadap diri sendiri dan lingkungannya lebih baik serta mengembangkannya ke arah pencapaian karir sesuai bakat, minat, cita-cita, dan kemampuannya.

2.         Fungsi Pemahaman
Fungsi pemahaman dalam bimbingan dan konseling adalah suatu fungsi untuk memberikan pemahaman tentang diri siswa atau siswa beserta permasalahannya dan juga lingkungannya oleh siswa itu sendiri dan oleh pihak-pihak yang membantunya.
a.         Pemahaman tentang siswa, merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan.
b.        Pemahaman tentang masalah siswa, yaitu pemahaman terhadap masalah siswa menyangkut jenis masalahnya, intensitasnya, sangkut-pautnya dengan masalah lain, sebab-sebabnya, dan kemungkinan-kemungkinan dampaknya apabila tidak segera dipecahkan.
c.         Pemahaman tentang lingkungan, di mana siswa diberikan pelayanan bimbingan dan konseling tentang pemahaman lingkungan supaya siswa mampu memahami lingkungannya dengan baik.
3.         Fungsi Pengentasan
Melalui fungsi pengentasan ini pelayanan bimbingan dan konseling akan menghasilkan terentaskannya atau terkendalinya masalah yang terjadi pada siswa.
4.         Fungsi Pemeliharaan
Fungsi ini adalah fungsi bimbingan dan konseling untuk menghasilkan terpeliharanya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara terarah, mantap dan berkelanjutan. Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang sudah bersifat positif dijaga agar tetap baik dan dimantapkan.
5.         Fungsi Penyaluran
Melalui fungsi ini pelayanan bimbingan dan konseling berupaya mengenali masing-masing siswa secara perorangan sesuai bakat, minat, kecakapan, cita-cita dan lain sebagainya. Dalam hal ini layanan bimbingan dan konseling memberikan bantuan kepada siswa untuk menyalurkan ke arah kegiatan yang cukup menunjang tercapainya perkembangan yang optimal.
6.         Fungsi Penyesuaian
fFungsi penyesuaian mempunyai dua arah. Pertama, bantuan kepada siswa agar dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekolah atau madrasah. Beberapa program bimbingan dan konseling yang dapat dilaksanakan untuk mewujudkan fungsi ini diantaranya :
a.       Tujuan sekolah atau madrasah untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap berbagai hal seperti fasilitas sekolah, kurikulum, cara belajar dan lain sebagainya.
b.      Kegiatan-kegiatan kelompok untuk memperoleh penyesuaian sosial yang baik.
c.       Pengumpulan data siswa untuk memperoleh pemahaman diri yang lebih baik sehingga siswa dapat menyesuaikan diri dengan baik pula
d.      Konseling individual untuk mengarahkan siswa dalam melakukan penyesuaian diri yang lebih baik terhadap lingkungannya.
Kedua, bantuan dalam mengembangkan program pendidikan yang sesuai dengan keadaan masing-masing siswa.
7.         Fungsi Pengembangan
Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling diberikan kepada para siswa untuk membantu para siswa dalam mengembangkan keseluruhan potensinya secara lebih terarah.
8.         Fungsi Perbaikan (kuratif)
Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling diberikan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh siswa.
9.         Fungsi Advokasi
Fungsi advokasi yaitu bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka upata pengembangan seluruh potensi secara optimal.
C.      Prinsip Bimbingan dan Konseling
1.      Prinsip-prinsip Umum
a.       Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbingnya. Artinya tiap individu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda meskipun masalah yang dialami individu (siswa) tersebut bisa saja serupa, namun penyebab dari masalah tersebut pastilah berbeda
b.      Bimbingan diarahkan untuk memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan dirinya dan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya.
c.       Bimbingan diarahkan untuk memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan dirinya dan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya.
d.      Pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan individu (siswa) yang dibimbing. Antara individu yang satu dengan individu yang lain tentunya berbeda, begitu pula dengan kebutuhannya.
e.       Bimbingan berkenaan dengan sikap dan tingkah laku individu. Bimbingan dan konseling diberikan kepada individu dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku individu kearah yang lebih baik.
f.       Pelaksanaan bimbingan dan konseling dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan individu yang dibimbing.
g.      Upaya pemberian bantuan (pelayanan bimbingan dan konseling) harus dilakukan secara fleksibel (tidak kaku).  Artinya prlayanan bimbingan dan konseling harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
h.      Program bimbingan dan konseling harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan dan pembelajaran di sekolah atau madrasah yang bersangkutan.
i.        Implementasi program bimbingan dan konseling harus dipimpin oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling dan pelaksanaannya harus bekerja sama dengan berbagai pihak yang terkait seperti dokter, psikiater, dan pihak-pihak terkait lainnya.
j.        Untuk mengetahui hasil-hasil yang diperoleh dari upaya pelayanan bimbingan dan konseling, harus diadakan penilaian atau evaluasi secara teratur dan berkesinambungan.
2.      Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Individu (Siswa)
a.       Pelayanan bimbingan dan konseling harus diberikan kepada seluruh siswa tanpa memperhatikan latar belakangnya.
b.      Pelayanan bimbingan dan konseling harus diberikan kepada seluuh siswa.
c.       Pelayanan bimbingan dan konseling harus diberikan kepada seluuh siswa.
d.      Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah atau di madrasah harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa yang bersangkutan beragam dan luas.
e.       Keputusan akhir dalam proses bimbingan dan konseling dibentuk oleh individu atau siswa sendiri.
f.       Individu atau siswa yang telah memperoleh bimbingan, harus secara berangsur-angsur dapat menolong dirinya sendiri.
3.      Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Pembimbing
a.       Pembimbing atau guru BK harus melakukan tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing
b.      Pembimbing atau guru BK di sekolah atau madrasah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuannya.
c.       Sebagai tuntutan profesi, pembimbing atau guru BK harus senantiasa berusaha mengembangkan diri dan keahliannya melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, penataran, workshop, dan lain sebagainya.
d.      Pembimbing dan guru BK hendaknya selalu mempergunakan berbagai informasi yang tersedia tentang individu atau siswa yang dibimbing beserta lingkungannya sebagai bahan untuk membantu individu yang bersangkutan ke arah penyesuaian diri yang lebih baik.
e.       Pembimbing dan guru BK harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu atau siswa yang dibimbingnya.
f.       Pembimbing dan guru BK dalam melaksanakan tugasnya hendaknya mempergunakan berbagai metode dan teknik.
4.      Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi Bimbingan dan Konseling
a.       Bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan
b.      Pelaksanaan bimbingan dan konseling harus ada di kartu pribadi bagi setiap siswa
c.       Program pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun sesuai kebutuhan sekolah atau madrasah yang bersangkutan.
d.      Harus ada pembagian waktu antar pembimbing sehingga masing-masing pembimbing mendapat kesempatan yang sama dalam memberikan bimbingan dan konseling.
e.       Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam situasi individu atau kelompok sesuai dengan masalah yang dipecahkna dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah tersebut.
f.       Dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, sekolah atau madrasah harus bekerja sama dengan berbagai pihak.
g.      Kepala sekolah (madrasah) merupakan penanggung jawab utama dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah atau madrasah.
D.      Asas Bimbingan dan Konseling
1.         Asas Kerahasiaan
Pelayanan bimbingan dan konseling haruslah menerapkan asas kerahasiaan secara penuh. Maksudnya segenap data dan keterangan tentang siswa harus dirahasiakan, data yang dimaksud adalah data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain.
2.         Asas Kesukarelaan
Dalam hal ini guru BK berkewajiban membina dan mengembangkan sikap kesukarelaan siswa sehingga siswa tidak keberatan untuk mengungkapkan rahasianya kepada guru BK. Selain kesukarelaan pada diri siswa, guru BK pun dituntut agar dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling tidak merasa terpaksa, melainkan merasa terpanggil untuk melaksanakan tugas ke-BK-annya.
3.         Asas Keterbukaan
Keterbukaan ini menghendaki agar siswa bersifat terbuka, tidak berpura-pura dalam memberikan keterangan mengenai dirinya sendiri dan bersedia menerima berbagai informasi atau materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.
4.         Asas Kekinian
Asas kekinian menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah masalah-masalah siswa yang dirasakan kini (sekarang).
5.         Asas Kemandirian
Dalam hal ini guru BK harus menghidupkan kemandirian siswa sehingga siswa tidak akan tergantung kepada orang lain khususnya guru BK. Individu yang dibimbing (siswa) setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu:
a.    mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya,
b.    menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis,
c.    mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri,
d.   mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu, dan
e.    mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.
6.         Asas Kegiatan
Pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki agar siswa berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan agar tercapainya tujuan-tujuan bimbingan.
7.         Asas Kedinamisan
Asas kedinamisan dalam pelayanan bimbingan dan konseling yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap siswa selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8.         Asas Keterpaduan
Asas keterpaduan dalam pelayanan bimbingan dan konseling yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru BK maupun pihak lain tidak bertentangan, melainkan saling menunjang, harmonis, dan terpadu.
9.         Asas Kenormatifan
Layanan bimbingan dan konseling dapat dipertanggungjawabkan jika isi dan pelaksanaannya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.
10.     Asas Keahlian
Dalam hal ini, pelaksana bimbingan dan konseling (guru BK) haruslah tenaga ahli dalam bidang bimbingan dan konseling serta berpengalaman, karena seorang guru BK ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktik konseling secara baik.
11.     Asas Alih Tangan
Asas ini mengisyaratkan agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan pada siswa dapat mengalihtangankan permasalahan tersebut kepada pihak atau badan lain yang lebih ahli.
12.     Asas Tut Wuri Handayani
Asas ini menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk maju.
E.       Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling
1.      Segi Fungsi, Ditinjau dari segi fungsi, ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah atau madrasah berfungsi untuk: (1) pencegahan, (2) pemahaman, (3) pengentasan, (4) pemeliharaan, (5) penyaluran, (6) penyesuaian, (7) pengembangan, dan (8) perbaikan.
2.      Segi Sasaran, ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah atau madrasah diperuntukkan bagi semua siswa dengan tujuan agar siswa secara individual mencapai perkembangan yang optimal melalui kemampuan pengungkapan-pengenalan-penerimaan diri dan lingkungan, pengambilan keputusan,pengarahan diri, dan perwujudan diri.
3.      Segi Pelayanan, ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling mencakup pelayanan-pelayanan : (1) Pelayanan orientasi; (2) Pelayanan Informasi; (3) Pelayanan penempatan dan penyaluran; (4) Pelayanan pembelajaran; (5) Pelayanan konseling perorangan; (6) Pelayanan bimbingan kelompok; (7) Pelayanan konseling kelompok; (8) Aplikasi instrumentasi bimbingan dan konseling; (9) Penyelenggaraan himpunan data; (10) Konferensi kasus; (11) Kunjungan rumah; (12) Alih tangan kasus

4.      Segi Masalah
Ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah atau madrasah mencakup 4 bidang, yaitu bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir.
a.    Bimbingan Pribadi
Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok sebagai berikut:
1)      Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2)      Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya untuk kegiatan-kegiatan yang produktif.
3)      Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan pengembangannya melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif.
4)      Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha penanggulangannya.
5)      Pemantapan kemampuan pengambilan keputusan.
6)      Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang sudah diambilnya.
Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat, baik secara jasmani maupun rohani.
b.   Bimbingan Sosial
Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok sebagai berikut:
1)   Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik melaui ragam lisan maupun tulisan secara efektif.
2)   Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat serta berargumen secara dinamis, kreatif, dan produktif.
3)   Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial , baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat luas.
4)   Pemantapan hubungan yang harmonis, dinamis dan produktif dengan teman sebaya.
5)   Pemantapan pemahaman kondisi dan peraturan sekolah, seta upaya pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggung jawab.
6)   Orientasi tentang hidup berkeluarga.
c.    Bimbingan Belajar
Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok sebagai berikut:
1)      Pemantapan sikap dann kebiasaan belajar yang efektif dan efisien serta produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai sumber belajar, bersikap terhadap guru, melaksanakan tugas-tugas pelajaran, dan menjalani program penilaiaan hasil belajar.
2)      Pemantapan disiplin belajar dan berlatih, baik secara mandiri maupun berkelompok.
3)      Pemantapan penguasaan program belajar di sekolah menengah umum sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kesenian.
4)      Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial, dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar, dan masyarakat untuk pengembangan pengetahuan dan kemampuan serta pengembangan pribadi.
5)      Orientasi belajar di sekolah sambungan/perguruan tinggi.

d.   Bimbingan Karir
Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok sebagai berikuit:
1)      Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir yang hendak dikembangkan.
2)      Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya, khususnya karier yang hendak dikembangkan.
3)      Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
4)      Orientasi dan informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karir yang hendak dikembangkan.

F.       Kaitan antara Bimbingan dan Konseling dengan Kurikulum 2013
Peran dan tugas guru BK semakin besar pada Kurikulum 2013 karena adanya program peminatan sejak siswa awal masuk kelas X. Dengan kata lain, siswa kelas X sudah menetapkan dimana minat dan bakat mereka apakah itu di program IPA, IPS, atau Bahasa. Dengan demikian, Kemendikbud telah mengadakan pelatihan untuk guru-guru BK, pengawas sekolah, dan kepala sekolah di berbagai tempat.
Dengan disertakannya bimbingan dan konseling di kurikulum 2013 berarti guru bimbingan dan konseling mendapatkan posisi yang setara dan sama pentingnya dengan guru mata pelajaran lainnya, yang pada kurikulum sebelumnya layanan BK hanya sebatas bagian dari kegiatan pengembangan diri saja. Adapun tugas khusus guru BK dalam pelayanan BK pada Kurikulum 2013 antara lain:
1.      Di SMP/MTs, guru BK harus membantu siswa dalam memilih mata pelajaran yang harus dipelajari dan diikuti selama pendidikan dan menyiapkan pilihan studi lanjutan.
2.      Di SMA/MA dan SMK, guru BK harus membantu siswa dalam memilih dan menentukan: (1) Arah peminatan kelompok mata pelajaran; (2) Arah pengembangan karir, dan (3) Menyiapkan diri serta memilih pendidikan lanjutan ke perguruan tinggi sesuai dengan kemampuan dasar, umum, bakat, minat, dan kecerdasan pilihan masing-masing siswa.

Referensi : Makalah BK Kelompok 2

Kamis, 26 Februari 2015

Resume Presentasi BK Kelompok 1 : MAKNA DAN POSISI SERTA URGENSI BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN

A.    Latar Belakang
Ada banyak fenomena peserta didik di sekolah yang terbawa oleh perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, kemudian dari perkembangan itu pula muncul dampak positif dan negative. Dampak positifnya peserta didik jadi lebih mudah berkomunikasi, bersosialisasi tanpa perlu tatap muka, semakin mudah memperoleh informasi, dsb. Namun, ada pula dampak negative yang relative lebih dominan terjadi di lingkungan peserta didik. Diantaranya muncul kemerosotan moral, tujuan pembelajaran yang tidak tercapai sepenuhnya, tindakan criminal, dan sebagainya. Oleh karena itu, setiap peserta didik di sekolah memerlukan sebuah bimbingan. Disinilah layanan bimbingan konseling memiliki peranan penting dalam mengatasi masalah ini. Akan tetapi, bimbingan dan konseling tidak bisa dipandang sebagai layanan hanya untuk peserta didik yang bermasalah saja, Bimbingan dan Konseling juga berperan dalam memberikan pengarahan peserta didik dalam memilih dan mengambil keputusan, perlunya aturan yang memayungi layanan bimbingan dan konseling, serta perbaikan tata kerja baik dalam aspek ketenagaan maupun manajemen juga menjadi alasan dibutuhkannya layanan bimbingan dan konseling
B.     Pengertian Bimbingan dan Konseling
Dengan memasukkan semua unsur di atas dapat dikatakan bahwa bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu atau kelompok agar mereka dapat mandiri melalui berbagai bahan, interaksi, nasihat, gagasan, alat, dan asuhan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku.

Winkel (2005:34) mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.
Atau dengan kata lain, konseling adalah proses interaksi antara konselor dan koseli/klien dengan tujuan agar konseli dapat mengambil tanggung jawabnya atas permasalahan yang sedang dihadapi dengan cara mengubah sikap dan tingkah laku konselor

C.     Kondisi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Paradigma terkait bimbingan dan konseling di sekolah antara lain : (1) Sekolah yang sadar betul akan pentingnya eksistensi bimbingan konseling, kemudian menata sistem penyelenggaraan BK menjadi salah satu elemen penting sekolah. (2) Sekolah yang sadar akan kedudukan BK dalam pembentukan pribadi peserta didik, tetapi tidak didukung oleh materi, tenaga dan yayasan atau pemerintah. (3) Guru BK masih dianggap sebagai polisi sekolah, hanya menangani orang yang bermasalah dan ironisnya guru BK bukan berasal dari lulusan BK. (4) Sekolah yang belum memiliki manajemen BK bisa jadi dikarenakan kurangnya informasi, tidak memerlukan, atau kurangnya finansial.

D.    Landasan Psikologis Bimbingan dan Konseling
Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang:
(1)   motif dan motivasi,
yaitu berupa dengan dorongan yang menggerakkan seseorang dalam berperilaku. Terdapat dua jenis motif, diantaranya motif primer dan motif sekunder.  Motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Sedangkan motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Kemudian kedua motif ini digerakkan oleh individu baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik) yang membentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Abin Syamsudin Makmun mengartikan motif sebagai suatu keadaan yang kompleks (a complex state) dalam diri individu untuk bergerak (to move) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari;
(2)   Konflik dan frustasi;
individu yang berada dalam keadaan konflik psikis, yaitu berada di suatu pertentangan batin, suatu kebimbangan, suatu keragu-raguan untuk memutuskan motif mana yang akan diambil. Oleh karena itu konflik yang dialami oleh individu menurut Syamsu Yusuf (2009: 165) dibedakan menjadi tiga jenis yaitu; (1) konflik mendekat-mendekat; (2) Konflik menjauh-menjauh; (3) Konflik mendekat-menjauh
Menurut Syamsu Yusuf (2009: 166) frustasi dapat diartikan sebagai kekecewaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan. Reaksi individu terhadap frustasi yang dialaminya berbeda-beda. Perbedaan reaksi tersebut dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukannya. Ada yang menghadapi dengan rasional, tetapi ada juga yang reaksinya terlalu emosional.

(3)   Sikap
Thurstone (Yusuf, 2009: 169) berpendapat bahwa sikap merupakan suatu tingkatan afeksi, baik bersifat positif maupunnegatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis, seperti: simbul, prase, slogan, orang, lembaga, cita-cita dan gagasan.
(4)   Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot).
(5)   Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial.
(6)   Masalah Penyesuaian Diri Dan Kesehatan Mental
Untuk dapat memenuhi kebutuhan, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan yang ada dalam lingkungannya, proses ini disebut sebagai proses penyesuaian diri. Jika individu berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya, hal itu disebut”well adjusted” atau penyesuaian dengan baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri tersebut disebut “maladjusted” atau salah suai.
(7)   Masalah Belajar
Pendidikan merupakan sarana perkembangan individu melalui belajar. Dalam kegiatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun pengajar. Oleh karena itu, ada beberapa factor sehingga keberhasilan belajar tercapai:
a)      factor internal,  Ada beberapa faktor yang harus dipenuhinya agar belajarnya berhasil. Syarat-syarat itu meliputi fisik dan psikis.Yang termasuk faktor fisik, diantaranya: nutrisi, kesehatan dan keberfungsian fisik.
b)      factor eksternal, Faktor ini meliputi aspek-aspek sosial dan nasional. Yang dimaksud faktor sosial adalah faktor manusia, baik yang hadir secara langsung maupun kehadirannya secara tidak langsung, seperti: berupa foto, TV, dan tape recorder. Sedangkan yang termasuk faktor nasional adalah keadaan, suhu udara, waktu suasana lingkungan, keadaan tempat, gedung, dan kelengkapan alat-alat belajar.
Jadi, perlu adanya bimbingan belajar yang bersifat preventif dan kuratif. Bimbingan belajar yang bersifat preventif bisa berupa Sikap dan kebiasaan belajar yang positif, Cara membaca buku yang efektif, atau Cara belajar kelompok. Adapun bimbingan belajar yang bersifat kuratif adalah layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki masalah atau kesulitan belajar

(8)   Kecerdasan Majemuk
Gardner mengemukakan bahwa semua manusia memiliki delapan dasar inteligensi, yaitu inteligensi linguistik, inteligensi logika matematika, inteligensi visual ruang, inteligensi kinestetika tubuh, inteligensi musikal, inteligensi interpersonal, inteligensi intra personal, dan inteligensi natural. Kedelapan inteligensi ini disebut multiple intelligensi (inteligensi majemuk).

(9)   Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional ini semakin perlu dipahami, dimiliki dan diperhatikan dalam pengembangannya, mengingat kondisi kehidupan dewasa ini semakin kompleks karena keberhasilan hidup seseorang tidak hanya bergantung pada kecerdasan intelektual saja, hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman. Untuk membantu para siswa atau mahasiswa mengembangkan kecerdasan emosional, maka pemberian layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting. Pelayanan bimbingan ini dilaksanakan secara teamwork, antara konselor, guru bidang studi, dan kepala sekolah atau antar dosen pembimbing akademik, wali mahasiswa, organisasi mahasiswa, dan pimpinan jurusan (program studi).

(10)  Kecerdasan Spiritual
Spiritual Quotion (SQ) sebagai proses tersier psikologis berfungsi untuk (1) mengintegrasikan dan mentransformasikan bahan-bahan yang berasal daridari proses primer (EQ) dan proses sekunder (IQ), (2) memfasilitasi suatu dialog diantara pikiran dengan perasaan, atau antara jiwa dan raga, dan (3) menempatkan self sebagai pusat keaktifan (kegiatan), penyatuan, dan pemberian makna. Meskipun banyak orang dapat mengekspresikan SQ melalui agama, tetapi keberagaman seseorang tidak menjamin tingginya SQ.

(11)  Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta suatu produk baru, atau kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi ciri-ciri kognitif (aptitude), seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), elaborasi (elaboration), dan pemaknaan kembali (redefinition) dalam pemikiran, maupun ciri-ciri non-kognitif (non-aptitude), seperti motivasi, sikap, rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.

(12)  Stres Dan Pengelolaannya
Stres meruapakan fenomena psikofisik yang bisa  dialami oleh setiap orang, dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan atau status sosial ekonomi. Stress dapat juga mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Akan tetapi, stress juga bisa menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, atau depresi, dan memicu berjangkitnya sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.
Teori dasar tentang stress dapat di simpulkan ke dalam tiga variable pokok, yaitu : (1) Variabel Stimulus, yang mengkonsepsikan stress sebagai tekanan dari luar terhadap individu yang dapat menyebabkan sakit; (2) Variabel Respon, yang mengembangkan konsep konsep yang lebih spesifik tentang reaksi manusia terhadap stressor, yang dia namakan GAS (General Adaption Syndrome), dan; (3) Variabel Interaktif, meliputi dua teori yaitu sebagai berikut: Teori Interaksional dan Teori Transaksional


E.     Landasan Sosiologis (Sosial-Budaya)  Bimbingan dan Konseling
Kehidupan yang terlalu berorientasi kepada kemajuan dalam bidang material (pemenuh kebutuhan biologis) telah menelantarkan supra empiris manusia, sehingga sangat kondusif bagi berkembanganya masalah-masalah pribadi dan sosial yang terekspresikan dalam suasana psikologis yang kurang nyamna, seperti; perasaan cemas, stress, dan perasaan terasing, serta terjadinya penyimpangan moral atau sistem nilai.
Sekolah tidak dapat melepaskan diri dari situasi kehidupan masyarakat, sekolah bertanggung jawab untuk mendidik dan menyiapkan siswa agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat dan mampu memecahkan berbagi masalah yang dihadapinya. dalam menyiapkan siswa untuk terjun ke masyarakan dengan berhasil, Siswa hendaknya dibantu agar apa yang mereka terima di sekolah merupakan bakal untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Disinilah peranan bimbingan dan konseling sebagai pemberi layanan bagi siswa

Faktor faktor Sosial Budaya yang Menimbulkan Kebutuhan akan Bimbingan:
1.      Perubahan Konstelasi Keluarga
2.      Perkembangan Pendidikan
3.      Dunia Kerja
4.      Perkembangan Kota Metropolitan
5.      Perkembangan Komunikasi
6.      Seksisme dan Rasisme
7.      Kesehatan Mental
8.      Perkembangan Teknologi
9.      Kondisi Moral dan Keagamaan
10.  Kondisi sosial Ekonomi

F.     Landasan Pedagogis Bimbingan dan Konseling
Sunaryo Kartdinata (2011: 23) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah upaya pedagogis yang menjadi fasilitas perkembangan individu dimulai dari kondisi apa adanya hingga kondisi di mana individu tahu apa yang harus dilakukannya sesuai potensi yang dimilikinya, upaya ini disebut upaya normatif.
Myrick (Kartadinata, 2011 : 24) menyatakan bahwa bimbingan terjun ke dalam kurikulum supaya potensi individu berkembang secara maksimal yang dilakukan oleh tenaga profesional seperti konselor atau melibatkan guru dan personil lainnya.
Tohirin (2007: 103) mengatakan bahwa landasan bimbingan dan konseling setidaknya berkaitan dengan: (1) Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, (2) Pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, , yakni belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan menerapkan secara efektif berbagai pemahaman. dan (3) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.

G.    Landasan Agama Bimbingan dan Konseling
Landasan ini berkaitan dengan pengintegrasian nilai-nilai agama dalam proses bimbingan dan konseling. Dengan kata lain, konselor perlu memiliki pemahaman tentang hakikat manusia dari segi agama serta peran agama dalam kehidupan manusia
1.      Hakikat Manusia Menurut Agama
Manusia adalah mahluk yang berfitrah, bisa memberikan nilai-nilai kebenaran dari agama serta dapat menjadikan agama sebagai rujukan untuk menentukan kebenaran. Fitrah beragama ini bergantung kepada lingkungan setiap, apabila kondusif, maka anak itu akan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia. Dalam menyampaikan ajaran-ajaran agamanya, manusia berarti telah mewujudkan jati dirinya dan dapat dikatakan sebagai khalifah di muka bumi
2.      Peranan Agama
Agama berperan sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia ke arah yang lebih baik, termasuk dari segi pembinaan dan pengembangan rohani yang sehat. Agama pula berperan untuk memelihara fitrah manusia, memelihara jiwa, memelihara akal, dan memelihara keturunan manusia.
3.      Persyaratan Konselor
Prayitno dan Erman Amti mengemukakan persyaratan bagi konselor, yaitu sebagai berikut.:
·         Konselor hendaklah orang yang beragama dan mengamalkan dengan baik keimanan dan ketaqwaannya sesuai dengan agama yang dianutnya.
·         Konselor sedapat-dapatnya mampu mentransfer kaidah-kaidah agama secara garis besar yang relevan dengan masalh klien.
·         Konselor harus benar-benar memperhatikan dan  menghormati agama klien.

H.    Landasan Perkembangan IPTEK Bimbingan dan Konseling
1.      Keilmuan Bimbingan dan Konseling
Tohrin (2007: 101) menyatakan bahwa kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan atas dasar keilmuan baik menyangkut teori, pelaksanaan kegiatannya, maupun pengembangannya. Pengetahuan Bimbingan konseling tersusun rapi dan sistematis. Dengan demikian, praktik bimbingan dan konseling yang terjadi di masyarakat harus dilaksanakan atas dasar keilmuan
2.      Peran Ilmu Lain dan Teknologi dalam Bimbingan dan Konseling
ilmu bimbingan dan konseling ialah disiplin ilmu yang merujuk pada ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, filsafat, sosiologi, dan sebagainya. Tak hanya itu, pelaksanaannya juga merujuk pada ilmu-ilmu lainnya. Sebagai contoh, dukungan perangkat teknologi berfungsi sebagai alat untuk memperjelas materi bimbingan dan konseling. Jadi, bimbingan dan konseling pada tataran teori dan praktik bersifat dinamis, yaitu berkembang melalui perkembangan IPTEK.
3.      Pengembangan Bimbingan Konseling Melalui Penelitian
Teori bimbingan dan konseling bisa saja dikembangkan dari penelitian guna menemukan pembuktian tentang keefektifan di lapangan. Hal ini bisa memajukan layanan bimbingan dan konseling jika dilakukan penelitian secara kontinu terhadap aspek tentang bimbingan dan konseling.
I.       Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling
1.      Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling
Berawal dari vocational bureau tahun 1908  yang menekankan bahwa sesungguhnya setiap orang butuh pertolongan untuk mengenal dan menghadapi kelemahan yang ada pada dirinya agar dapat menggunakan intelejensinya dalam membuat sebuah keputusan, tempat kerja mana yang baik untuk mereka. Pada waktu yang hampir bersamaa, Jasse B. Davis, konselor di Detroit, memberi layanan konseling di SMA dan pada tahun 1907 membuat program bimbingan ke dalam pengalaman pendidikan siswa di Detroit.
Jika dilihat dari perkembangannya, Bimbingan Konseling mula-mulanya hanya dikenal sebatas pada bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance), sebagaimana peran dari Biro yang didirikan Frank Parson di Boston. Namun sebenarnya tidak hanya itu, di sisi lain perkembangan Bimbingan Konseling pun merambah kebidang pendidikan (Education Guidance) yang dirintis oleh Jasse B. Davis. dan sekarang dikenal pula adanya bimbingan dalam segi kepribadian (Personal Guidance).
2.      Faktor-faktor yang melatar belakangi berkembangnya Bimbingan Konseling
Bimbingan dan konseling secara profesional berkembang pada abad ke-20. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ini diantaranya:
·         rasa empati pemerintah terhadap imigran dari Eropa ke Amerika Serikat yang membutuhkan pekerjaan yang layak dengan cara memberikan penyuluhan untuk mengarahkan bakat dan minat mereka
·         Pandangan Kristen yang beranggapan bahwa dunia adalah tempat pertempuran antara kekuatan baik dan buruk, maka berbagai lembaga pendidikan di wajibkan mengajarkan moral kebaikan agar anak didiknya kelak menjadi pemenang dalam melawan keburukan tersebut.
·         Pengaruh dari disiplin ilmu kesehatan mental yang pada awalnya memperjuangkan perlakuan manusiawi kepada orang-orang yang terkena gangguan jiwa dan sedang di tampung di rumah sakit.
·         Subsidi dari pemerintah terhadap federal yang memungkinkan lembaga-lembaga pendidikan untuk mengangkat beberapa konselor untuk menangani bimbingan karier, pendidikan karier, penanggulangan kenakalan remaja, antisipasi terhadap penggunaan obat bius, dan lain-lain

J.      Perkembangan Bimbingan Konseling Di Indonesia
1.      Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling di Indonesia
Sebenarnya sudah sejak lama Indonesia melaksanakan praktik bimbingan dan konseling. Berawal dari organisasi pemuda Budi Utomo pada tahun 1908, Taman siswa pada tahun 1922 dengan prinsip didaktik : kemerdekaan belajar, bekerja, dan menggunakan pendekatan konvergensi. Hal ini memberi perhatian terhadap potensi seseorang dan kemerdekaan untuk mengembangkan potensi. Kemudian perkembangan bimbingan dan konseling ini juga berlangsung saat diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dalam perkembangannya, bimbingan dan konseling di Indonesia memiliki alur yang sama seperti halnya perkembangannya di Amerika, yaitu bermula dari bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance) lalu merambah kepada bimbingan pendidikan (Education Guidance).
2.      Perkembangan Bimbingan Konseling dalam system Pendidikan di Indonesia
Pada sistem pendidikan di Indonesia, bimbingan dan konseling mengalami perubahan nama. Seperti pada Kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian menjadi Bimbingan dan Konseling pada kurikulum 1994 sampai sekarang. Kemudian pada konferensi FKIP pada tahun 1960 di Malang, Bimbingan dan Konseling masuk dalam kurikulum FKIP sesuai dengan instruksi dari Depdikbud bahwa bimbingan dan konseling wajib melaksanakan BK di sekolah.
pada tahun 1962, didirikan SMA gaya baru dengan mengarahkan siswa untuk menentukan kejuruan yang sesuai minat dan bakat siswa. selanjutnya pada dekate 70-an, dibangun Proyek Perintis Sekolah Pembangunan yang memberikan harapan baru  pada pelaksanaan bimbingan di sekolah karena karena staf bimbingan memegang peranan penting dalam sistem sekolah pembangunan. Pada tahun 1975 berdiri ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang. IPBI ini memberikan pengaruh terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakukannya UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Selanjutnya, pada tahun 2001 terjadi perubahan nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).

Jumat, 05 April 2013

Resensi Film Architecture 101

Judul                     : Architecture 101
Genre                   : Drama
Penulis                 : Lee Yong Joo, Kim Ji-Hye
Sutradara            : Lee Yong Joo
Produser             : Kim Kyun Hee
Tanggal Rilis        : 22 Maret 2012
Durasi                   : 118 menit
Distributor          : Lotte Entertainment
Pemain                 : Uhm Tae Woong (Seung-Min dewasa), Han Ga In (Seo Yeon dewasa) , Bae Suzy (Seo Yeon remaja), Lee Je Hoon (Seung-Min remaja), Yoo Yeon Seok (Hyung Jae Uk), Jo Jung Suk ( Nap Tteuk )

Architecture 101 adalah sebuah film berdurasi 118 menit yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Lee Yong Joo. Secara sepintas, film ini bercerita tentang kisah cinta pertama dua orang remaja universitas namun terlambat untuk diungkapkan. Hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dengan perasaan cinta yang berbeda saat mereka remaja. Dengan kata lain, film ber-genre drama ini membawa kita pada dua masa, yaitu pada masa sekarang dan masa lalu.
Seung-min (Uhm Tae Woong) seorang arsitek, mendapat seorang tamu tak diduga di kantornya, seorang wanita yang ternyata adalah Seo Yeon (Han Ga In), teman lamanya di tahun pertama universitas. Seo Yeon mengunjungi Seungmin dengan tujuan untuk meminta lelaki itu membantunya membangun sebuah rumah di Pulau Jeju untuk ayahnya yang sedang sakit. Dia berharap jika ayahnya sembuh nanti, dia bisa melanjutkan perawatannya di rumah barunya nanti.
Lima belas tahun silam, Lee Seung-Min (Lee Je Hon), seorang mahasiswa memiliki cinta pertama pada mahasiswa baru di kelas Introduction of Architecture, Yang Seo Yeon (Bae Suzy). Ada pun tujuan Seo Yeon mengikuti kelas arsitek adalah untuk mendekati lelaki terpopuler di klubnya bernama Hyung Jae Uk (Yoo Yeon Seok), yang juga merupakan teman Seung-Min. Tak peduli dengan itu, Seung-Min terus mengikuti gadis cantik itu sehingga pada akhirnya mereka memiliki hubungan pertemanan yang sangat dekat. Berawal dengan berkenalan lebih dalam, mengerjakan tugas bersama, sampai akhirnya Seung Min jatuh cinta kepada Seo Yeon. Saat sudah menjadi arsitek nanti, Seung Min berjanji akan membuatkan rumah untuk Seo Yeon.
Keadaan kacau datang ketika Seo Yeon menanggapi rayuan Hyung Jae Uk dan mengabaikan Seung-Min yang berada di belakangnya. Disamping itu, Jae Uk adalah playboy yang suka meniduri wanita setelah membuatnya mabuk terlebih dahulu. Adegan klimaks pun muncul saat Seung Min berencana membuat kejutan di saat salju turun dan menunggu Seo Yeon di samping rumahnya sampai larut malam. Saat itu pula, Seung Min melihat Seo Yeon diantarkan pulang oleh Jae Uk dalam keadaan mabuk dan keduanya masuk ke dalam rumah Seo Yeon. Seung Min hanya bisa menebak apa yang akan dilakukan Jae-Uk terhadap Seo-Yeon di dalam rumah dalam kondisi mabuk. Mulai saat itulah Seung-Min tak lagi mau bertemu dengan Seo-Yeon.
Rasa kekecewaan yang mendalam membuat perilaku Seung Min pun langsung berubah total terhadap Seo Yeon, seakan-akan menganggapnya sebagai wanita yang pantas mati. Seung Min meminta Seo Yeon untuk menghilang dari hadapannya.
Kembali ke masa sekarang. Rumah di Pulau Jeju pun telah selesai di bangun, Seo Yeon dan Seung Min berbincang-bincang mengenai rumahnya dan saat itulah semua teka-teki masa lalu pun terjawab. Ternyata alasan Seo Yeon mencari Seung Min tak lebih karena penasaran dengan cinta pertamanya itu. Namun sudah terlambat, kisah cinta dua insan ini tak bisa dirajut kembali karena Seung Min terlanjur akan menikah dengan sekertarisnya sendiri, Eun Chae. Setelah mereka menikah, Seung Min memutuskan untuk bekerja di Amerika dan membawa Eun Chae.
Film yang dibuat Lee Yong Joo ini memang tidak lepas dari drama percintaan khas negeri ginseng yang bisa menguras emosi para penonton. Beberapa setting korea jaman dulu dan pemandangan Pulau Jeju yang indah digambarkan pada film ini. Ceritanya begitu dramatis dan menyentuh seakan-akan penonton membayangkan rasanya menjadi sosok Seung Min dan Seo Yeon. Selain itu, adegan kisah cinta digambarkan secara menarik dan utuh tanpa adanya unsur-unsur yang vulgar. Pelajaran yang bisa didapat dari film ini adalah penonton menjadi tahu dampak negative dari bermabuk-mabukan, terutama untuk seorang wanita. Namun, ending yang sedikit menggantung membuat penonton merasa sedikit kecewa dari cerita ini. Kelemahan dari cerita ini yaitu unsur arsitektur yang kurang ditampilkan secara utuh. Hanya beberapa scene yang mempelihatkan proses renovasi dan presentasi yang diperlihatkan. Penulis kurang detail melukiskan peran arsitektur dalam hubungan percintaan mereka . Akan tetapi,  film ini sangat cocok ditonton oleh keluarga dan pasangan anda dan juga sebagai pengisi waktu luang anda.

Sabtu, 23 Maret 2013

contoh soal statdas

Buat temen-temen yang masih bingung dengan mean, median, modus atau selain itu . saya mau share contoh soal nya :D


ada juga nih contoh soal tentang mencari luas area (peluang) dari data berdistribusi normal

Contoh :
Sekelompok data diasumsikan berdistribusi normal. Tentukan luas area (peluang) dari suatu nilai data yang terletak:
a. di atas z = +0,37
b. di bawah z = -2,35
sebelum mengerjakan soal yang satu ini, tabel distribusi normal sangat diperlukan untuk menghitung peluangnya.